Sebuah Cerita di Empat Kota Terindah di Vlaanderen #PartGent

Perjalanan luar biasa ini dimulai pada 25 Juli 2015 saat saya berkesempatan untuk melihat dunia luar untuk kedua kalinya. Mengapa luar biasa? Durasi ‘melihat dunia luar’ ini berlangsung cukup lama yaitu sekitar 28 hari. Ya, hampir sebulan.

Kanal di sekeliling Gent

Kanal di sekeliling Gent

Menjadi mahasiswa asing di tempat yang asing bukanlah hal yang mudah. Dengan mengasumsikan bahwa musim panas di kota ini tidak akan diguyur hujan merupakan salah satu kesalahan terbesar saya…”

GENT
Gent yang merupakan sebuah kota pelajar di Belgia, sebuah negara kecil di selatan Belanda. Saya berangkat pukul 18.00 WIB pada tanggal 25 dan akhirnya benar benar menginjakkan kaki di kota ini pada keesokan harinya pukul 14.00 waktu Belgia. Perlu dijelaskan juga bahwa kunjungan ke Gent ini bukan serta merta dalam rangka liburan melainkan memenuhi undangan zomer cursus (kursus musim panas) yang seluruh kegiatannya selama 21 hari di Vlaandria dibiayai Nederlandse Taalunie. ‘Nederlandse Taalunie’ adalah organisasi kesatuan yang mengurusi bidang bahasa Belanda di Belanda dan Vlandria, salah satu region Belgia yang masih kental berbahasa Belanda. Belgia sendiri memiliki tiga bahasa sebagai bahasa nasionalnya di antaranya adalah Belanda, Perancis dan Jerman. Pada umumnya Belgia bagian atas (Utara) meliputi kota Gent, Brugge, Antwerpen, Leuven, dan Brussel berbahasa Belanda, sedangkan di bagian bawah (Selatan) berbahasa Perancis dan hanya sebagian kecil yang berbahasa Jerman.


Zomer cursus ini diselenggarakan di Ghent University, sehingga saya pun mendapatkan fasilitas asrama bagi mahasiswa internasional, Home Uppsala. Selain memenuhi kewajiban untuk mengikuti kelas setiap Seninsampai Jumat, di sela-sela jadwal itu pula saya dan teman-teman asal negara lainnya diberi kesempatan untuk mengeksplor kota-kota dan kultur yang ada di Belgia.

Menjadi mahasiswa asing di tempat yang asing bukanlah hal yang mudah. Dengan mengasumsikan bahwa musim panas di kota ini tidak akan diguyur hujan merupakan salah satu kesalahan terbesar saya. Benar saja, setelah jamuan makan malam pertama kota ini diguyur hujan deras pukul 21.15 dan saya hanya berbekal jaket universitas yang baru dibagikan sebelumnya. Mungkin terbilang bodoh untuk melanjutkan perjalanan pulang ke asrama dengan kondisi hujan deras, namun jika tidak memaksakan diri saya mungkin akan lebih lama bermain hujan dengan kemungkinan tersasar di hari yang mulai gelap.

Keesokan harinya semua mahasiswa zomer cursus dipandu untuk mengenal lebih dekat kota Gent, kota yang sebelas-dua belas dengan Jogjakarta namun rasa Bogor karena cuacanya yang tidak mudah diprediksi. Namun bagi mereka yang sudah lama tinggal di kota ini, bisa dipastikan mereka sudah cukup paham kapan harus menggunakan jaket dan payung. Tur ini dimulai dengan mengunjungi De Wereld van Kina: Natuurmuseum yang letaknya tidak jauh dari asrama karena hanya terpisah satu blok yaitu di Sint-Pietersplein 14. Walaupun lagi-lagi langit kota ini ditutupi awan kelabu, tidak mengurangi rasa bersyukur saya terhadap tempat ini karena selain benar-benar hijau dengan banyaknya pohon, tempat ini tidak dipungut biaya alias gratis. Banyak pemuda-pemudi yang khusus ke sini hanya untuk melepas penat sambil berpiknik kecil di bawah pohon dan bahkan ada juga yang menyempatkan untuk belajar.

Taman Belakang Natuurmuseum

Taman Belakang Natuurmuseum

Setelah Natuurmuseum, tur keliling kota Gent pun dilanjutkan. Layaknya bangunan-bangunan bersejarah di Eropa pada umumnya, Gent memiliki bangunan yang sudah berumur ratusan tahun dan masih berdiri tegak di tengah abad ke-21 ini. Salah satunya adalah Sint-Baafskathedraal atau Saint Bavo’s Cathedral. Bangunan ini diresmikan menjadi katedral pada tahun 1559 dengan menara tertingginya mencapai 290 meter. Sint-Baafs mulai direstorasi tahun 2005 lalu, hal ini menjelaskan mengapa saat saya  di sana bangunan ini diselimuti kain hampir di semua sudut. Di dalam Sint-Baafs terdapat sebuah lukisan dari Van Eyck bersaudara, Het Lam Gods. Selain itu juga terdapat lukisan De bekering van Sint-Bavo atau The Conversion of Saint Bavo.

Tidak jauh dari Sint-Baafskathedraal bangunan bersejarah lainnya yaitu sebuah wachttoren atau watch tower bernama Belfort. Menara setinggi 95 meter yang beraliran neo-gotik ini dibangun tahun 1314 dan termasuk menara utama di Gent selain menara Sint-Niklaaskerk (Gereja Sint Nikolas) dan menara Katedral Sint-Baafs.

Belfort wachttoren

Belfort wachttoren

Keliling kota Gent ini berakhir di Balai Kota Gent (Stadhuis van Gent) setelah berjalan kaki selama lebih dari satu setengah jam. Tur ini resmi berakhir dengan jamuan ‘cemilan’ yang disediakan pihak balai kota. Bangunan ini sempat direnovasi, karena pada awalnya gaya bangunan ini sangat kental dengan nuansa gotik.

Selesai berkeliling kota Gent berjalan kaki, saya melanjutkan keliling kanal di Gent. Kalau tidak salah harga tiketnya sekitar 7 EUR, namun karena saat itu masih dalam tanggungan zomer cursus maka saya lagi-lagi menikmati yang gratis 😉
Tur keliling kanal ini berdurasi satu jam. Foto-foto di kanal ini saya ambil sekitar pukul 20.00 waktu Belgia. Masih cukup terang dan tetap menunjukkan keindahan kota Gent, khususnya di Graslei dan Korenlei.

hopping Gent Zuid – Gent punya mall yang di depannya parkiran sepeda loh! Dari penjual french fries hingga outlet ternama pun lengkap tersedia di Shopping Gent Zuid.

hopping Gent Zuid – Gent punya mall yang di depannya parkiran sepeda loh!
Dari penjual french fries hingga outlet ternama pun lengkap tersedia di Shopping Gent Zuid.

Boleh diingat bahwa sesungguhnya menjelajahi Gent ini merupakan dari rangkaian acara zomer cursus dan saya akui rangkaian perkuliahan di sana sangat ketat dan tepat waktu. Sehingga selain tempat-tempat yang saya sebutkan, bisa jadi belum tereksplor oleh saya. Dengan 6 hari libur pun, Gent belum terjelajahi sempurna. Satu hal yang pasti, semua tempat yang telah dicantumkan ini memiliki kenangan tersendiri untuk saya.

The following two tabs change content below.
jrnahrisya@gmail.com'

jrnahrisya

is currently pursuing Bachelor of Humanities in University of Indonesia. A movie go-ers, ice cream lovers and absolutely ready to check another goals in the bucket list!
jrnahrisya@gmail.com'

Latest posts by jrnahrisya (see all)