Museum Sejarah Jerman di tengah kota Berlin

Hall tengah museum ini

Hall tengah Deutsches Historiches Museum

Akhirnya, postingan perdana di LekasPergi. Postingan ini sebenarnya merupakan bagian dari catatan perjalanan saya ke Eropa di blog pribadi. Salah satu yang berkesan coba saya pilih untuk LekasPergi yaitu kunjungan saya ke museum sejarah Jerman atau yang dalam bahasa Jerman disebut Das deutsches historiches Museum. Sebuah museum dengan konsep mengajak masyarakatnya untuk dapat memahami konteks Aufklärung & memahami sejarah masyarakat Jerman dalam konteks Eropa. Museum ini terletak di Zeughaus, masih di kawasan Unter den Linden, sekitar dua blok dari hostel dengan tempat saya menginap & sekitar 2km dari Berlin Hauptbahnhof.

Homosekxuaität (Schwulmuseum) 2 by @TW.Utomo

Poster berukuran raksasa menyambut kita di pintu masuk museum ini

Yang menarik dari museum ini adalah pihak museum menyajikan tema-tema menarik untuk diangkat tiap smesternya.Tema yang diangkat ialah mengenai isu-isu sosial yang sedang hangat dalam masyarakat, misalnya mengenai penyatuan Jerman, budaya pop hingga mengenai imigrasi orang-orang Asia & Afrika ke Eropa. Ketika saya berkunjung tema yang sedang diangkat ialah mengenai isu Homoseksualitas (sebagai gender sosial) dalam masyarakat Jerman. Semenjak rezim Hitler runtuh, masyarakat Jerman sendiri memang mulai terbuka dengan fenomena yang dahulu sangat dianggap tabu dan mengerikan ini. Meskipun Jerman sendiri merupakan salah satu negara eropa yang belum mengakui pernikahan sesama jenis, namun jaminan akan keselamatan orientasi gender (bukan seksual biologis) warganya tetap diutamakan pemerintahnya.

Tema homoseksualitas yang diangkat smester ini

Portrait salah satu atlet binaraga transjender terkenal di Eropa. (saya lupa namanya)

Terdapat pameran fotografi mengenai isu seksualitas sosial di hall utama museum, namun sayang tidak boleh diabadikan. Namun rasanya poster utama ini sudah cukup mengangkat isu sosial yang sedang coba diulas.

This slideshow requires JavaScript.

Saya kagum terhadap koleksi museum ini. Melangkah di tiap centimeter areanya seperti menyusuri labirin-labirin nostalgia dimana kita seolah-olah berada dan menjadi bagian bangsa Jerman di tiap zamannya. Pada slideshow diatas ada beberapa foto mengenai diorama bagaimana rezim NAZI membantai musuh-musuh politik dan apa yang dianggap sebagai musuh negara atau yang biasa disebut dengan istilah Holocaust. Selain itu ada juga koleksi portret Marthin Luther, sorang teolog revolusioner kaum Poretestan. Berkatnyalah agama Katolik Roma pecah (sebagai institusi) dan lahir aliran-aliran baru dalam agama kristiani khususnya di Eropa. Ada juga koleksi berupa seri mobil Volkswagen pertama yang kala itu Hitler gunakan untuk mendapat simpati dari masyarakat Jerman.(lihat slideshow)

This slideshow requires JavaScript.

Koleksi lainnya yang berhasil menarik perhatian saya adalah koleksi baju-baju zirah pada masa Perang Salib. Tidak hanya baju zirah khas Eropa namun juga baju zirah khas kesatria-kesatria Turki Otoman yang lebih luwes dan memiliki ciri khasnya tersendiri. Ada juga sebuah tenda besar berikut berbagai macam koleksinya milik salah satu sultan Otoman melarikan diri dari wilayah Austria setelah rencana invasinya ke Eropa tengah diketahui pihak intelijen. Mungkin jika tidak ada operasi intelijen seperti itu kekhalifan Orroman sudah serta merta menguasai Eropa. (lihat slideshow)

Selain tema yang disajikan tiap smesternya, perhatian saya entah mengapa lebih tertuju pada koleksi-koleksi lainnya. Rasanya seperti kembali ke masa lalu jerman sejak zaman kaisar Karl der Groß, Perang Salib, era kekaisaran Prusia, era Hitler hingga era bangkitnya Jerman pasca perang. Andai saja saya mengunjungi museum ini sebelum pelajaran-pelajaran dalam perkuliahan dilaksanakan, pasti itu akan lebih menyenangkan. Hehehehe.

Tiap lorong memiliki zonanya masing-masing yang menceritakan dampak perang bagi negara-negara tetangga Jerman

Tiap lorong memiliki zonanya masing-masing yang menceritakan dampak perang bagi negara-negara tetangga Jerman

Terdapat satu ruangan berbentuk lingkaran yang tiap lorong zonanya menceritakan dampak perang dunia dua untuk negara-negara tetangga Jerman beserta bukti sejarahnya. Namun saya ruangan itu tidak boleh difoto karena merupakan bukti otentik para korban perang.

Tarif yang dikenakan di museum ini ialah EUR12 untuk dewasa dan EUR8 untuk pemuda. Tidak terasa saya telah berjalan mengitari museum ini hingga 5 jam. Terdapat wifi yang bisa digunakan secara gratis hingga toko souvenir. Menariknya toko souvenir tersebut menjual buku-buku dari tema-tema smester sebelumnya yang diangkat di museum ini.

Tarif : EUR8-12

Good for: Kamu yang suka sejarah Eropa khususnya Jerman.

Contra side: Area

museum yang terlalu luas dan cukup membingungkan denahnya.

Tips : Museum ini terlalu banyak mengulas Jerman dengan sedemikian kompleks. Harusnya googling dulu nih area mana yang mau dituju lebih awal karena terlalu luas dan banyak banget fakta sejarahnya yang sayang kalau dilewatin. Atau ini karena saya suka sejarah dan latar belakang saya memang Sastra Jerman yah? hehehe

The following two tabs change content below.
is an UI literature student and journalist who spare time write anything on his blog. Mostly about travelling, humanism and photography trend. He also founder of LekasPergi.com