Cassis Les Calanques: Teluk Kecil di Côte d’Azur

Mungkin nama teluk ini belum terlalu terkenal di kalangan pelancong Indonesia. Namun, pada bulan Mei 2016 lalu aku sangat bersyukur bisa mengunjunginya melalui perjalanan darat bersama keluarga.

Cassis Les Calanques masih termasuk ke dalam Côte d’Azur atau French Riviera dalam bahasa Inggris. Artinya, garis pantai Mediterania di daerah tenggara Perancis. Cassis sendiri merupakan nama sebuah kota kecil, dan Calanques artinya teluk kecil. Jadi, Cassis Les Calanques adalah teluk kecil di kota Cassis.


Cassis terletak di 15 KM ke timur dari Marseille dan dibutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk menuju Cassis dari Marseille, karena tidak sepanjang jalan merupakan jalan tol. Tapi tenang, selain tidak ada macet, rute jalan yang ditempuh seru dan cantik. Kenapa seru? Karena ada satu ruas jalan tol sepanjang 3 KM yang merupakan terowongan yang melewati dasar laut. Ini pertama kalinya buatku, karena di Indonesia belum ada. Sayangnya dinding jalan tol ini adalah beton dan bukannya kaca, jadi kita ngga bisa melihat dasar laut. Memang akan cantik kalau dindingnya memakai kaca tebal, namun tentu akan membutuhkan teknologi dan biaya yang sangat tinggi. Impasnya, tarif jalan tolnya pun akan tinggi.

Tidak lama setelah jalan tol, kami melewati jalan umum biasa. Dari yang awalnya pemandangan kota, perlahan berubah jadi desa, dan lama-lama jadi bukit dan daerah hijau. Walau jalannya tidak terlalu besar, di beberapa titik di atas bukit ada beberapa space untuk memarkir mobil sebentar dan menikmati pemandangan cantik dari atas bukit. Kalau mau foto-foto, tentu saja juga bisa banget. Dari atas bukit ini kita bahkan bisa melihat teluk kecilnya Cassis. Good thing is that the sky was crystal clear when I was there, sehingga langit dan lautnya terlihat sangat biru. Cahaya matahari dan angin yang berhembus pun hangat, sempurna untuk menikmati hari.

Sesampai di Cassis, kami memarkir mobil di lapangan parkir umum di pinggir pelabuhan. Hanya 200 meter dari parkiran tersebut, kami sudah sampai di teluk utamanya. Teluk ini ternyata betulan hanya teluk kecil, panjangnya mungkin tidak sampai satu kilometer. Pasir pantai di sini putih dan bersih, namun butir pasirnya cukup besar sehingga agak sakit jika menusuk kaki. Kami sangat bersemangat ingin segera bermain air di sini, tapi ketika baru saja menyelupkan kaki, brrrrrrrrrr. Airnya sedingin air kulkas!! Pantas saja tidak banyak bule yang ada di dalam air, bahkan yang berenang pun sedikit. Bule pun kedinginan dengan air di sini. Akhirnya, kami hanya duduk-duduk di pasir, menikmati matahari seperti bule-bule di sana. Padahal, saat itu suhu udaranya sekitar 26 derajat celcius. Memang jauh lebih rendah dibandingkan suhu normal di Jakarta, tapi bagiku yang menghabiskan hari-hari sebelumnya di daerah yang suhunya hanya berkisar di angka 15 derajat, it’s a big deal. 26 derajat itu hangat. Enak. Sayang airnya begitu dingin, jauh berbeda dengan pantai-pantai di Indonesia. Ah, pantai di Indonesia is the best deh!

Setelah puas berjemur, kami berjalan santai di sepanjang pinggir pelabuhan, melihat perahu-perahu yang sedang bersandar. Pelabuhan ini tidak besar, tapi banyak boat yang menawarkan jasa keliling teluk-teluk lainnya di jam-jam tertentu. Waktu perjalanan bervariasi, ada yang 45 menit, dua jam, bahkan setengah hari. Tarifnya berkisar antara 15-30 Euro per orang. Sayang sekali, saat itu kami tidak memiliki banyak waktu di tempat ini, jadi tidak bisa ikut boat tripsnya.
Selain pelabuhan, di Cassis juga ada desa kecil yang punya banyak cafe dan toko kecil. Aku memilih jajanan gelato besar dalam cone rasa stroberi yoghurt dan violet seharga 4 euro. Rasanya creamy dan segar, pas untuk menemani aku duduk di tepi pantai dan menutup akhir perjalanan kami di sini.

The following two tabs change content below.

Sherera Jan Adnin

Educator at Jakarta Adventist School
Former student at University of Indonesia's Faculty of Humanity and proud educator in primary and secondary schools. Now continuing life in PR world. Enjoying everything in life, especially travelling, movie, and literature.

Latest posts by Sherera Jan Adnin (see all)